1.Jelaskan Perbedaan
Framework ITIL & COBIT ?
Banyaknya framework, pendekatan
serta guidance dalam pengelolaan Teknologi Informasi seringkali membuat
praktisi terkait baik manajemen maupun staff IT menjadi bingung. Bagaimanakah
posisi framework, metodologi atau guidance yang
satu dengan yang lain? apakah saling melengkapi ataukah saling menggantikan?
kalau saling melengkapi bagaimana cara implementasinya? sebaliknya kalau saling
menggantikan dimana kelemahan dan kelebihan satu dari yang lainnya? atau bahkan
hanya akal-akalan vendor atau organisasi tertentu dalam mendorong penjualan
produk atau servicenya?
Pertanyaan yang sering muncul dalam
diskusi, forum maupun seminar adalah perbedaan serta penggunaan ITIL dan COBIT.
Sebagaimana kita ketahui COBIT
atau Control OBjective of
Information and related Technology merupakan sebuah pedoman bagi
pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control yang terbagi
kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut
adalah: Planing & Organization (PO), Acquisition & Implementation (AI), Delivery &
Support (DS) dan Monitoring.
Sedangkah ITIL merupakan sebuah
kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi (lihat penjelasan tentang apa itu ITIL dalam
artikel terpisah). Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Delivery kemudian menjadi CORE dalam
ITIL versi 2, yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.
Apabila dilihat dari posisi kedua
pendekatan tersebut, maka dapat kita lihat hubungan secara langsung
diantara Delivery & Support (COBIT)
dan ITSM. Dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapai oleh sebuah
organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara
pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan
bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata
kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi. Apabila dibedah
lebih jauh, relavansi ITIL tidak hanya berhenti di area Deliveri & Support, tetapi bisa
kita petakan ke area COBIT lainnya.
2.Jelaskan
masing-masing peranannya didalam menyempurnakan layanan SI pada suatu
organisasi?
-COBIT
COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.
COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.
Implementasi dari best practices harus konsisten
dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan
terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices
bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari
bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices
biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai
permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai
keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat
disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level),
menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi
informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan secara umum.
COBIT
FRAMEWORK
Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines
(arahan), yakni :
a. Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high
level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning
& organization, acquisition & implementation, delivery & support,
dan monitoring.
b. Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed
control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management
assurance atau saran perbaikan.
c. Management Guidelines
Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa
saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja
yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.
d. Maturity Models
Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam
skala 0 – 5).
Pengelolaan
TI (Tata Kelola TI)
Teknologi
informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan
teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor
dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI
maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan
menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.
Semua
kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan
TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko
dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko yang akan dihadapi.
Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan
perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).
PT.
Transindo Jaya Komara
KOPERASI
LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK)
dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun
2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak
khusus mengelola daging sapi dan air mineral.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.
Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan
masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin.
Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan
mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan
daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji
baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah
dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.
Berkaitan
dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam
hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar
pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang
efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap
penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.
1. Analisis Permasalahan
·
Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan
teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak
sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.
·
Mengetahui berbagai kendala dalam
pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.
·
Perusahaan menginginkan adanya suatu
evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .
·
Pengolahan Data
PO
1 Merencanakan rencana strategis IT
Pada
PT. Transindo Jaya Komara sudah
mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering
diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui
oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis
TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan
perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya
berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum
berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.
Tetapi
pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah
yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum
berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online,
dengan website yang diberikan perusahaan.
Seperti
adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :
·
Solusi menyeluruh untuk industri
perdagangan dan investasi
·
Solusi TI menyeluruh dengan nilai
yang luar biasa
·
Solusi TI menyeluruh dengan
kompetensi yang tinggi
PO
2 Arsitektur Informasi
Belum
semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan
belum terintegrasi.
PO
3 Arah Teknologi
Teknologi
yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.
PO
4 Organisasi TI dan hubungan
Sudah
ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi
belum bekerja secara maksimal.
PO
5 Investasi TI
Belum
adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.
Alokasi
anggaran yang terbatas.
PO6
Komunikasi tujuan dan arah manajemen
Masih
lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan
koordinasi
koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.
PO
7 Manage SDM
Penempatan
SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.
Pengelolaan
sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional
maupun
manajerial.
PO
8 Kesesuaian dengan external requirement
Kurangnya
kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap
perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan
masyarakat
(globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri
transportasi dan perjalan
PO
9 Menilai Resiko TI
Di
PT. Transindo Jaya Komara sudah
adanya kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan
kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi
100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan
perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen
resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum
disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager
yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang
memberitahukan secara manual kepada pegawainya.
Proses
kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru
atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena
tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.
PO
10 Manajemen Proyek
Pada
perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User
disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses
pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan
teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan
management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.
PO
11 Manajemen kualitas
Kurangnya
tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap
SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.
KESIMPULAN
Metode
cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya
Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah
diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan
kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat
lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai
dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi,
pemegang saham dan pemerintah.
-ITIL
ITIL
atau Information Technology Infrastructure Library adalah suatu rangkaian
dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi
teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang
masing-masing membahas suatu topik pengelolaan (TI). Nama ITIL dan IT
Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of
Government Commerce (OGC) Britania Raya.
ITIL
memberikan deskripsi detil tentang beberapa praktik (TI) penting dengan daftar
cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala
jenis organisasi (TI).
Walaupun
dikembangkan sejak dasawarsa 1980-an, penggunaan ITIL baru meluas pada
pertengahan 1990-an dengan spesifikasi versi keduanya (ITIL v2) yang paling
dikenal dengan dua set bukunya yang berhubungan dengan ITSM (IT Service
Management), yaitu Service Delivery (Antar Layanan) dan Service Support
(Dukungan Layanan).
Pada
awalnya ITIL adalah serangkaian lebih dari 40 buku pedoman tentang pengelolaan
layanan IT yang terdiri dari 26 modul. Perpustakaan besar pertama ini juga
dikenal sebagai ITIL 1.0. Antara 2000 dan 2004 disebabkan oleh peningkatan
pelayanan yang berkesinambungan dan adaptasi terhadap situasi saat ini dalam
lingkungan (TI) modern ITIL 1.0 di rilis besar dan digabungkan menjadi delapan
inti manual: ITIL 2.0. Pada awal musim panas 2007 ITIL 3.0 diterbitkan. Ini
didirikan struktur yang sama sekali baru. Ini terdiri dari tiga bidang utama:
- ITIL Core Publikasi
- ITIL Pelengkap Bimbingan
- ITIL Web Support Services
Pada
30 Juni 2007, OGC (Office of Government Commerce) menerbitkan versi ketiga ITIL
(ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada
pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi.
Kelima bagian tersebut adalah:
- Service Strategy
Inti
dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy. Service Strategy
memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep
ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan,
mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset
strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar
dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di
keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik
yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk
menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun
eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi
implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup
dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
- Service Portfolio Management
- Financial Management
- Demand Management
Bagi
organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy
digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi
nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih
serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun
organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi
organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy
digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses
dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di
organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta
perangkat ITSM tersebut.
- Service Design
Agar
layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI
tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari
pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat
secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun
implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan
metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI
dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan,
seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang
lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru,
namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan,
kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam
Service Design yaitu:
- Service Catalog Management
- Service Level Management
- Supplier Management
- Capacity Management
- Availability Management
- IT Service Continuity Management
- Information Security Management
- Service Transition Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Proses-proses yang dicakup dalam
Service Transition yaitu:
- Transition Planning and Support
- Change Management
- Service Asset & Configuration Management
- Release & Deployment Management
- Service Validation
- Evaluation
- Knowledge Management
- Service Operation
Service
Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional
harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan
pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin
tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya.
Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI
serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja
layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam
Service Transition yaitu:
- Event Management
- Incident Management
- Problem Management
- Request Fulfillment
- Access Management
- Continual Service Improvement
Continual
Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara
kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI
mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah
satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality
Cycle
Sebuah
perusahaan yang mengimplementasi ITIL secara nyata tentunya mendapat banyak
sekali keuntungan, misalnya, pelayanan IT menjadi lebih fokus kepada departemen
lainnya di dalam satu perusahaan, biaya lebih efisien dan dapat diatur dengan
baik, serta perubahan-perubahan IT yang dapat lebih mudah untuk diatur, dan
masih banyak keuntungan lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada income
perusahaan itu sendiri.
Framework
ITIL dikembangkan sejak 1980-an oleh Office of Government Commerce (Departemen
Perdagangan) Inggris sebagai guidance bagi organisasi/perusahaan di sana.
Pertengahan 1990-an, ITIL diakui dunia menjadi standar de facto di bidang
service management. ITIL menyediakan sekumpulan best practice yang lengkap dan
konsisten untuk ITSM, serta mempromosikan pendekatan kualitas untuk mencapai
efektivitas dan efisiensi organisasi dalam penggunaan sistem informasi. ITIL
mencakup 8 aspek, yakni: dukungan layanan, delivery, rencana pengembangan,
manajemen infrastruktur TI, manajemen aplikasi, perspektif bisnis, manajemen
sekuriti, dan manajemen aset software. Saat ini ITIL telah memiliki paket
materi dan menyediakan kursus pelatihan, ujian dan sertifikasi. Sebagai sebuah
framework, ITIL telah memasuki versi terbaru, yaitu ITIL V3 – Service Life
Cycle.
Menurut
Santosh Nair, Direktur Birlasoft, sebelumnya Birlasoft menggunakan beragam
perangkat help desk. Hanya saja, perangkat itu fungsinya terbatas. Semisal,
tidak cocok (compliant) dengan proses ITIL; fitur IT Asset Management tidak
tersedia sehingga sulit melacak aset; tidak ada fitur untuk persetujuan proses;
keterbatasan dalam hal Service Level Agreement ataupun Change Management; tidak
ada mesin alur kerja untuk mengotomasi proses; hingga terbatasnya fungsi
pelaporan dan notifikasi e-mail. “Semua itu menyebabkan banyak kerja manual,
informasi pengguna tidak terlacak secara akurat, kesulitan untuk cocok dengan
ITIL dan lisensi software. Akibatnya, ada ketidakpuasan dari para pelanggan dan
staf administrasi TI,” ungkap Nair.
Manfaat ITIL
Dengan
menyediakan pendekatan sistematis untuk manajemen layanan TI, ITIL dapat
membantu sebuah perusahaan dalam cara berikut:
- Mengurangi biaya
- Peningkatan layanan TI melalui penggunaan proses-proses praktek terbaik yang telah terbukti meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pendekatan yang lebih profesional untuk pelayanan standar dan pedoman
- Meningkatkan produktivitas
- Meningkatkan penggunaan keterampilan dan pengalaman
- Meningkatkan penyampaian layanan pihak ketiga melalui spesifikasi ITIL atau ISO 20000 sebagai standar untuk pengiriman layanan pengadaan jasa.
Desain Layanan
Layanan desain adalah kegiatan
perencanaan dan pengorganisasian orang, infrastruktur, komunikasi dan komponen
material layanan dalam rangka meningkatkan kualitas dan interaksi antara
penyedia layanan dan pelanggan.
Service Design Agar layanan TI dapat
memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus
terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service
Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis
dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM
itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain
untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi
portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage
dan sebagainya.
Lima aspek utama dari desain layanan
:
-Solusi layanan baru atau perubahan.
-Sistem manajemen layanan dan
perangkatnya, khususnya Portfolio Layanan.
-Arsitektur teknologi dan sistem
manajemen.
-Proses, peran dan kemampuan.
-Metode pengukuran dan satuan.
Tujuan Desain Layanan
Tujuan dari metodologi desain
layanan adalah untuk merancang sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau
peserta,sehingga layanan ini,kompetitif dan relevan kepada pelanggan
user-friendly. Proses ini adalah untuk memahami perilaku pelanggan,kebutuhan
dan motivasi. Desain Layanan menarik pada metodologi bidang seperti etnografi
dan jurnalisme untuk mengumpulkan wawasan pelanggan melalui wawancara dan
dengan membayangi pengguna jasa. Layanan desain dapat menginformasikan
perubahan ke layanan atau penciptaan layanan baru yang ada.
Paket Desain Layanan
Mendefinisikan seluruh aspek dalam
layanan TI dan keseluruhan persyaratan dari setiap tingkatan dalam siklus hidup
layanan. SDP dihasilkan untuk setiap layanan TI baru, perubahan mayor, atau
layanan TI yang dikeluarkan.
0 komentar:
Posting Komentar