Kamis, 28 September 2017

0 Interaksi Manusia dan Mesin/Komputer pada Film Ex Machina


Masih ingat beberapa hari yang lalu saya tengah menikmati film bertemakan Artificial Intelligence berjudul Chappie, yang sangat memusingkan kepala dan melelahkan mata. Bukan karena alurnya yang sulit dicerna, melainkan karena pengemasannya, terutama eksekusinya yang sangat kacau balau di sana sini. Dengan hadirnya Ex Machina yang rilis di tahun dan dengan tema yang sama ini, rasanya memberikan ‘obat penyegar’ untuk melupakan segala kacau balau di Chappie tadi.
Setelah nonton film ini jadi tau pemainnya. Pemainnya ada Caleb, Nathan, Ava dan Kyoko. Singkat saja si Caleb menang undian untuk datang ke tempat tinggal dan risetnya si Nathan. Tanpa pikir panjang, Caleb menyetujuinya dan datang ke tempat Nathan berada. Nathan memberi tahu kepada Caleb bahwa ia telah membuat robot dengan kecerdasan buatan(Artificial Intelligence) yang ia beri nama Ava. Nathan memberikan tugas kepada Caleb untuk melakukan Turing Test kepada Ava. Dari situlah, perkenalan awal Caleb dengan robot yang berwujud seperti perempuan.
  
Dari situlah, perkenalan awal Caleb dengan sang robot berkecerdasan buatan bernama Ava (Alicia Vikander) bermula. Dari pertemuan awal tersebut, Caleb hanya melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait siapa sesungguhnya jati diri Ava. Di balik layar, ada Nathan yang mengawasi dan selalu mencatat setiap perkembangan dari Ava. Semakin lama, Caleb semakin akrab dengan Ava. Sebagai ganti dari Caleb yang mencoba mencari tahu siapa dirinya, Ava pun ingin tahu lebih banyak lagi mengenai Caleb. Hingga suatu ketika, Ava membicarakan sesuatu yang bersifat menggoyahkan pemikiran Caleb di tempat tersebut.  

Nathan sendiri merupakan pemilik perusahaan search engine bernama Blue Book. Lokasi risetnya yang terbilang rahasia dan tertutup ternyata ia hanya tinggal berdua dengan Ava dan Kyoko. Sebelumnya saya sudah mengetahui bahwa Ava itu robot dan Kyoko saya kira manusia ternyata ia robot juga. Kyoko merupakan riset Nathan yang memiliki cerita tersendiri. Di dalam alur Kyoko tidak memiliki kemampuan berbicara, tapi ia mengerti sensor suara dan gerakan. Terlihat ketika Nathan menyalakan musik bersama Caleb, dan kyoko pun bergoyang.

Karakter Ava benar-benar mendekati manusia. Mulai dari cara ia bertanya dengan pertanyaan yang membuat Caleb tersentuh, hingga ia memilih pakaian yang tepat untuk ia pakai. Kemampuan dan pengetahuannya berasal dari dari Blue Book yang sudah tersinkronisasi. Hubungan dekat antara Caleb dan Ava semakian terasa. Dari mulanya melakukan percakapan yang merupakan bagian dari tes, kemudian berlanjut pada percakapan yang bersifat pribadi, Caleb sepertinya jatuh cinta pada Ava(cie). Suatu ketika Caleb mencoba mengakses file riset Nathan. Caleb kaget ketika mendapati rekaman riset gagal sebelum Ava lahir. Terpikir dalam benak Caleb untuk merencanankan rahasia kabur.

Pas endingnya tragis, Nathan mati oleh buatannya sendiri si Ava dan Kyoko. Caleb ditinggal pergi sama Ava dengan janji manisnya yang katanya mau kabur bareng. Akhirnya Ava berhasil kabur nggak ngajak-ngajak yang lain dari rumah yang terbilang sangat aman. Hubungan interaksi manusia dengan komputer dalam bentuk robot yang benar-benar menyerupai manusia ternyata memiliki dampak yang tidak diketahui entah positif atau negatif. Terlihat dari film ini, Caleb bisa jatuh hati pada Ava hingga pencipta mati oleh ciptaannya. Positif kalau orangnya sendiri juga positif begitu juga dengan negatif. Kalau saya sendiri ogah tinggal bareng sama robot kayak gini walaupun dari Interface sendiri sangat meyakinkan. Sekian dari saya terima kasih.

Kesimpulan pada film ini adalah kemajuan teknologi sekarang sampai masa yang akan datang akan semakin canggih, mungkin saja manusia dengan robot dapat bekerja atau hidup secara berdampingan. dan pasti akan memiliki danpak positif dan negatif yang besar pula. 

Rabu, 07 Juni 2017

1 KOMBINASI ITIL, COBIT, DAN ISO/IEC 27002 AGAR DESIGN SEBUAH KERANGKA IT LEBIH LUAS DI DALAM ORGANISASI



Introduction
Managemant adalah sebuah usaha untuk mengontrol langsung sebuah grub atau sekumpulan orang ata kesatuan untuk berkordinasi dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertent. Sekarang ini managemnt meliputi beberapa dimensi seperti sumber daya manusia, financial resource dan sumber daya teknlogi. Salah satu area managemnt yang baru adalah management informasi tknologi. Itu adalah sebuah subject study dari dua cabang ilmu teknologi informasi dan ilmu management. Informasi teknologi mempunyai beberapa definisi dari sudut pandang yang berbeda. Yang pertama, sistem it adalah aplikasi dan infrastruktur component componen dari prduct yang lebih besar, mereka ditanamkan pada prosess dan pelayananya.
Sedangakan dari sudut pandang yang kedua, it adalah sebuah kumpulan yang mampu mengatur kapabilitas dan sumber dayanya sendiri. IT organisazation bisa menjadi bermacam macam type seperti fungsi bisnis, sharing pelayanan dan unit pelayanan bagian.
Dari sudut pandang yang ketiga, it adalah sebuah kategori dari pelayanan yang dimanfaatkan untuk berbisnis. Mereka secara  typical nya adalah it aplikasi dan infrastruktur yang dikemas dan di tawarkan sebagai pelayanan oleh organisation it internal tersebut atau penyedia layanan luar. Dalam sudut pandang ini harga IT dilakukan sebagai beban bisnis.
Dari sudut pandang yang keempat, It adalah sebuah kategory dari asset bisnis yang menyediakan sebuah aliran dari keuntungan untuk pemiliknya, tremasuk namun bukan batasan untuk pendapatan dan keuntungannya. Dalam sudut pandang ini nilai IT diperlakukan sebagai investasi.
Semua definisi menekankan pentingnya It dalam organisasi.oleh sebab itu, hal tersebut menjadi crusial untuk mengatur dan meimplementasikan IT dalam organisasi. Ada beberapa standart , alat,dan praktik terbaik untuk mengatur pelayanan  IT. Standart yang paling banyak digunakan adalah ISO/IEC 27002 information security, COBIT, ISO20000 dan ITIL. Setiap standart, alat dan frameworknya memiliki kekuatan dan batasan itu sendiri.  
Papaer ini, pertama akan menyadiakan sebuah ITIL COBIT dan ISO/IEC 27002 yang akan di sebutkan, lalu berdasarkan pada 3 frameworks dan standart sebuah kerangka comprehensive yang akan di tujukan.

2 ITIL.
ITIL ( information teknology structure library 0 adalah standart yang diperkenalkan dan didistribusikan oleh kantor pemerintahan commerce di UK dan termasuk semua bagian bagian organisation. Sekarang ini paling luas diterima yang berdekatan pada pelayanan IT managemnet di dunia.
·         Service strategy
Strategy pelayanannya menyediakan panduan bagaimana mendesain, mengimplementasikan dan mengembangkan management pelayanan dari sudut pandang kesanggpuan organisasional dan asset strategi.  Strategy pelayanan termasuk proses proses ini,seperti financial management, service portofolio management dan management permintaan.
·         Service design
Itu adalah panduan untuk mendesain dan mengembangkan pelayanan  dan proses management pelayanan. Hal terserbut meliputi prinsipple design dan metode untuk mengubah object strategy kedalam portofolio dari pelayanan dan aset pelayana. Servic design termasuk dalam proses proses berikut ini, management pelayanan catalog, management pelayanan level, management kapabilitas, management ketersediaan, management pelayanan IT lanjutan, management informasipenyedia management keamanan informasi, management pelayanan data dan informasi bisnsi
·         Service transition
Adalah paduan untuk mengembangkan dan menerima kapabilitas dari transisi baru dan perubahan pelayanan dalam operasi. Bagian kerangka ITIL ini mengcombinasikan management pelepasan, management program dan resiko management dan tempat mereka dalam contex dari management pelayanan. Service transisi proses meliputi  : management perubahan, asset pelayanan dan management configurasi, management pelepasan, management pengetahuan, management pemangku kepentingan, perencanaan perubahan dan evaluasi pelayanan dan dukungan.
·         Service operation
operation service mencoba untuk mewujudkan praaktik dalam managemnt dari oerasi pelayanan. Proses tersebut adalah management event, management kejadian, management permintaan, management masalah, dan management acces.
·         Continual service improvement
·         Ini termasuk paduan instrumental dalam membuat dan memeriksa nilai untuk costumer melalui design yang lebih baik pengenalan dan operation service nya. Prosess proses nya meliputi :prosses penerimaan 7- langkah, management pelayanan level.
COBIT
The control objectives for information and retated technology (COBIT).adalah sebuah pengaturan kerang ka terbaik untuk informasi teknology management yang dibuat oleh informatiion system audit and control association (ISACA) dan the IT Governence institute ( ITGI) pada 1992. Cobit menyediakan pengaturan auditor dan pengguna IT  dengan mengatur secara umum ukuran penerimaan, indikator, proses dan praktik terbaik untuk membantu mereka dalam memaksimalkan keuntungan melalui kegunaan dari informasi teknology dan mengembangkan Pemerintahan IT yang cocok dan mengontrol dalam sebuah perusahaan.
   §   Plan and organize
Ini adalah daftar level control tertinggi objek untuk merencanakan dan mengatur domain.
§  Menjelaskan startegy perencanaan IT
§  Menjelaskan arsitektur infromasi
§  Membedakan tujuan teknologi
§  Menjelaskan proses IT organisasi dan hubungannya.
§  Mengatur investment dalam IT
§  Mengkomunikasiakn tujuan tujuan management dan arahannya.
§  Mengatur IT sumberdaya manusiannya
§  Menagtur kualitas
§  Mengartur resiko IT
§  Mengatur project project

   §  Acquire dan implement
Tujuannya untuk mengindentifikasikan kebutuhan teknologi IT dan untuk mengimplementasikan itu kedalam perusahaan.
   §  Delivery and support.
Domain ini mencoba untuk mengatur pelayan langsung yang mana termasuk :
·         Mendefisinisikan dan mengatur level pelayanan
·         Mengatur pelayanan pihak ketiga
·         Mengatur perfomance dan kapabilitas
·         Meyakinkan pelayanan kelanjutan
·         Meyakinkan keamanan system
·         Identifikasi dan pemindahan harga
·         Mendidik dan melatih pengguna
·         Mengatur pelayanan dan kejadian
·         Mengatur konfigurasi
·         Mengatur masalah
·         Mengatur data
·         Mengatur lingkungan fisiknya
·         Menagtur operasion

   §  Monitor and evaluate
Berikut ini daftar tabel high level objectives control untuk memonitoring domain.
·         Memonitor IT process
·         Memonitor ddan evaluasi internal control
·         Meyakinkan regulasi
·         Menyediakan IT governance

ISO/IEC 27002
Ini adalah sebuah informasi security management systemn yang mana code nya dari management keamanan informasi.
ITIL berhubungan dengan COBIT
Ketika ITIL dihubungkan dengan COBIT itu telah meneumkan bahwa mereka correspond dengan yang lainnya pada derajat yang tinggi khusussnya ketika proses COBIT  adalah ITIL berdasarkan sebagai versi yang akhir dengakn akata lain berbeda kata pengguunann untuk issue yang sama namun mereka mengcover problem yang sama. Oleh sebab itu lebih baik untuk meminjam concept dan process, activitas dan keuntungan dan perencanaan untuk mengimplementasikan dari ITIL standart and audit dari COBIT untuk mendesign kerangkan yang comprehensive.
ITIL berhubungan dengan ISO/IEC 27002
ISO/IEC 27002 seperti yang disebutkan digunakan untuk keamanan informasi dan tidak hanya issue IT. ISO/IEC27002 tidak correspond dengan ITIL sebanyak ITIL lakukan dengan COBIT. ISO/IEC27002 secara langsung untuk meyakinkan semual keamannan pada semua level dalam sebuah organisasi. Management permaslaahan dan configurasi dalam ITIL tdakcocok dalam ISO 27002. Configurasi management nya mempunyai sebuah pengaruh yang besar pada lingkungan IT dan itu seharusnya dihandle dalam dalam sebuah keamanan perilaku.dengan tambahan ISO/IEC 27002 security adalah di karakteristikan sebagai pencegahan dari confidentional, integritas dan ketersediaan.

Sabtu, 03 Juni 2017

2 RANGKUMAN MANAJEMEN RESIKO TEKNOLOGI INFORMASI I UNTUK KEBERLANGSUNGAN LAYANAN PUBLIK MENGGUNAKAN FRAMEWORK INFORMATION TECHNOLOGY INFRASTRUCTURE LIBRARY (ITIL VERSI 3)



1. PENDAHULUAN

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta meluasnya perkembangan infrastruktur informasi global telah mengubah pola dan cara beraktivitas pada organisasi, institusi, industri, maupun pemerintahan. Fakta semakin meningkatnya ketergantungan organisasi kepada TI untuk mencapai tujuan strategi dan kebutuhan organisasi menjadi pendorong utama pentingnya TIK. Layanan TI berkualitas tinggi berarti meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan TI untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan publik memerlukan tata kelola yang baik (Permenkominfo, 2007). Dengan menerapkan tata kelola yang baik akan menjamin transparansi, efisiensi, dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan.
Kegiatan pelayanan publik tidak dapat terhindar dari adanya gangguan/kerusakan yang disebabkan oleh alam maupun manusia misalnya terjadinya gempa bumi, bom, kebakaran, banjir, power failure, kesalahan teknis, kelalaian manusia, demo buruh, huru-hara dan sebagainya. Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada kemampuan teknologi yang digunakan, tetapi juga berdampak pada kegiatan operasional pelayanan publik. Untuk meminimalisasi resiko tersebut, setiap instansi pemerintah daerah diharapkan dapat menyusun langkah-langkah terpadu untuk menjamin keberlangsungan layanan agar tetap dapat berfungsi dengan baik terutama dalam penggunaan layanan TI. Information Technology Infrastructure Library (ITIL) sebagai suatu kerangka kerja manajemen layanan TI dapat digunakan sebagai panduan dalam menyusun langkah-langkah operasional tersebut. Dengan kerangka kerja ITIL diharapkan resikoresiko yang mungkin terjadi dapat diminimalisasi serta dapat dilakukan mitigasi resiko dalam upaya menjaga keberlangsungan layanan TI.

2. MANAJEMEN RESIKO TI

Manajemen resiko TI merupakan proses identifikasi resiko, penilaian resiko, dan pengambilan langkah-langkah untuk menurunkan resiko sampai level yang dapat diterima (Stoneburner, 2002). Meskipun secara umum metode manajemen resiko untuk organisasi memiliki persamaan, namun memiliki resiko yang berbeda-beda sehingga diperlukan manajemen resiko secara khusus. Terkait dengan pemerintah yang memberikan layanan publik, dampak dari resiko dapat diukur tidak hanya secara ekonomi, namun juga pengaruh sosial.

2.1 Perencanaan Manajemen Resiko TI
Menurut Spremic (2008) untuk keberhasilan dalam menjaga segala sesuatu yang dapat menyebabkan permasalahan, setiap organisasi harus membangun metode dan teknik untuk mengendalikan insiden-insiden yang terjadi pada TI dan untuk mengidentifikasi resiko yang mungkin terjadi.
Terdapat tahapan-tahapan penting dalam perencanaan manajemen resiko TI: 

1. Identifikasi dan klasifikasi resiko TI,
2. Penilaian resiko TI (Business Impact Analysis) dan menentukan prioritas,
3. Strategi penanggulangan resiko TI – identifikasi pengendalian TI,
4. Implementasi dan dokumentasi dari penanggulangan resiko (pengendalian TI),
5. Pendekatan portofolio resiko TI dan keselarasan dengan strategi bisnis,
6. Pengawasan berkala terhadap tingkat resiko TI dan audit.

2.2 Kerangka Kerja Manajemen Resiko TI

Prinsip M_o_R – prinsip-prinsip tersebut merupakan esensi dalam pengembangan praktik manajemen resiko yang baik dan diturunkan dari prinsip-prinsip tatakelola perusahaan (corporate governance). 

Pendekatan M_o_R – pendekatan organisasi untuk prinsip-prinsip tersebut dibutuhkan untuk mendefinisikan dan persetujuan dalam dokumen berikut:
 a. Kebijakan manajemen resiko
 b. Panduan proses
 c. Perencanaan
 d. Registrasi resiko
 e. Permasalahan log
 
Proses M_o_R – berikut ini menjelaskan empat tahapan aktivitas dalam manajemen resiko:
a.Identifikasi – ancaman dan peluang dalam aktivitas yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam mencapai tujuan.
b.Menilai – pemahaman net effect dari identifikasi ancaman dan peluang aktivitas yang dilakukan.
c.Merencanakan – mempersiapkan tanggapan manajemen secara spesifik yang dapat mengurangi ancaman dan memaksimalkan peluang.
d.Implementasi – penerapan rencana manajemen resiko, mengawasi efektivitas dan mengambil langkah yang diperlukan dalam menanggulangi ekspektasi yang tidak sesuai. 

Embedding dan reviewing M_o_R – diperlukan review keberlanjutan dan peningkatan bahwa hal tersebut masih baik untuk digunakan
Komunikasi – diperlukan aktivitas komunikasi yang tepat dalam menjamin bahwa setiap orang tetap up to date dengan perubahan dalam ancaman, peluang dan seluruh aspek manajemen resiko.

2.3 Information Technology Service Continuity Management  (ITSCM)

ITSCM merupakan salah satu proses area dari service design ITIL versi 3. Tujuan dari ITSCM adalah untuk mendukung seluruh proses manajemen keberlangsungan bisnis dengan memastikan bahwa kebutuhan teknis TI dan fasilitas layanan (termasuk sistem komputer, jaringan, aplikasi, data repositories, telekomunikasi, lingkungan, dukungan teknis dan service desk) dapat kembali beroperasi dan sesuai dengan timescale bisnis.
Sasaran dari ITSCM diantaranya adalah untuk :
a. Memelihara rencana-rencana berkelanjutan layanan TI (IT service continuity plans) dan rencana-rencana pemulihan TI yang mendukung kelanjutan bisnis
b. Melengkapi exercise business impact analysis (BIA) secara teratur untuk menjamin seluruh rencana-rencana berkelanjutan dikelola agar selaras dengan dampak perubahan dan kebutuhan bisnis
c. Menyediakan panduan dan saran untuk seluruh area bisnis dan TI yang berkaitan dengan kelanjutan dan pemulihan
d. Memastikan mekanisme yang tepat untuk kelanjutan dan pemulihan agar sesuai dengan tujuan kelanjutan bisnis
e. Menilai dan dampak perubahan pada rencanarencana kelanjutan layanan TI dan rencanarencana pemulihan TI
f. Memastikan bahwa ketersediaan layanan diimplementasikan sesuai dengan anggaran yang ditetapkan

3. IMPLEMENTASI
3.1 Tahap Inisialisasi

Pada tahap ini dilakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut:
a. Penentuan kebijakan – hal ini harus dibangun dan dikomunikasikan sehingga semua orang yang ada di organisasi dapat terlibat. Dalam kebijakan ini ditentukan sasaran serta fokus dari manajemen. Peran dari pimpinan sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan yang dilaksanakan.
b. Lingkup – pada tahap ini ditentukan lingkup serta tanggungjawab dari setiap staf yang ada diorganisasi. Kewenangan dan tanggungjawab dari setiap staf disesuaikan dengan kemampuan dan kapabilitas yang dimilikinya, agar mendukung terhadap setiap kegiatan yang akan dilaksanakan.
c. Alokasi Sumberdaya – keberlangsungan dari bisnis membutuhkan sumberdaya diantaranya uang dan sumberdaya manusia. Hal ini sangat penting untuk mendukung kelangsungan dari proses. Penentuan alokasi sumberdaya dengan tepat dapat mengefisiensikan kinerja yang dilakukan.
d. Struktur pengendali dan Organisasi Proyek – kegiatan yang dilakukan perlu diorganisir dan dikendalikan dengan baik, karena kegiatan yang bersifat kompleks sehingga perlu dilakukan langkah-langkah sistematis dan terkendali.
e. Perencanaan dan Proyek yang berkualitas – perencanaan yang baik dapat menjamin keberhasilan pencapaian kualitas kegiatan. Setiap kegiatan yang akan dilaksanakan perlu direncanakan dengan matang agar hasil yang diperoleh dapat dimaksimalkan serta meminimalisasi resiko-resiko yang terjadi.

3.2 Tahap Kebutuhan dan Strategi
3.2.1 Analisis Resiko

Pada tahap ini menilai level resiko dan membuat ranking resiko dengan mempertimbangkan faktor kecenderungan (likelihood) dan besarnya dampak resiko (impact). Pada proses penilaian ini memanfaatkan kerangka kerja Management of Risk (M_o_R). Pendekatan analisa resiko dapat secara kualitatif atau kuantitatif.

3.2.2 Strategi Keberlangsungan Layanan TI

Setelah mengetahui resiko-resiko yang terjadi serta prioritas yang harus dilakukan dari hasil analisis resiko maka dapat dirancang strategi-strategi untuk keberlangsungan layanan TI.


4. PENUTUP

Keberlangsungan layanan pada pelayanan publik merupakan salah satu hal yang perlu ditata kelola agar penyelenggaran pelayanan dapat terselenggara dengan baik sehingga masyarakat dan pengguna dapat terlayani sesuai dengan kebutuhannya. Manajemen resiko TI dan merencanakan strategistrategi dalam keberlangsungan layanan TI harus dilakukan secara sistematis dan latihan yang terus menerus untuk meningkatkan dan memperbaiki proses layanan TI.

Minggu, 30 April 2017

0 Framework ITIL & COBIT


1.Jelaskan Perbedaan Framework ITIL & COBIT ?
Banyaknya framework, pendekatan serta guidance dalam pengelolaan Teknologi Informasi seringkali membuat praktisi terkait baik manajemen maupun staff IT menjadi bingung. Bagaimanakah posisi framework, metodologi atau guidance yang satu dengan yang lain? apakah saling melengkapi ataukah saling menggantikan? kalau saling melengkapi bagaimana cara implementasinya? sebaliknya kalau saling menggantikan dimana kelemahan dan kelebihan satu dari yang lainnya? atau bahkan hanya akal-akalan vendor atau organisasi tertentu dalam mendorong penjualan produk atau servicenya?
Pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi, forum maupun seminar adalah perbedaan serta penggunaan ITIL dan COBIT.
Sebagaimana kita ketahui COBIT atau Control OBjective of Information and related Technology merupakan sebuah pedoman bagi pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control yang terbagi kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut adalah: Planing & Organization (PO), Acquisition & Implementation (AI), Delivery & Support (DS) dan Monitoring.
Sedangkah ITIL merupakan sebuah kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi (lihat penjelasan tentang apa itu ITIL dalam artikel terpisah). Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Delivery kemudian menjadi CORE dalam ITIL versi 2, yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.
Apabila dilihat dari posisi kedua pendekatan tersebut, maka dapat kita lihat hubungan secara langsung diantara Delivery & Support (COBIT) dan ITSM. Dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapai oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi. Apabila dibedah lebih jauh, relavansi ITIL tidak hanya berhenti di area Deliveri & Support, tetapi bisa kita petakan ke area COBIT lainnya.
2.Jelaskan masing-masing peranannya didalam menyempurnakan layanan SI pada suatu organisasi?
-COBIT 

COBIT didasari oleh analisis dan harmonisasi dari standar teknologi informasi dan best practices yang ada, serta sesuai dengan prinsip governance yang diterima secara umum. COBIT berada pada level atas yang dikendalikan oleh kebutuhan bisnis, yang mencakupi seluruh aktifitas teknologi informasi, dan mengutamakan pada apa yang seharusnya dicapai dari pada bagaimana untuk mencapai tatakelola, manajemen dan kontrol yang efektif. COBIT Framework bergerak sebagai integrator dari praktik IT governance dan juga yang dipertimbangkan kepada petinggi manajemen atau manager; manajemen teknologi informasi dan bisnis; para ahli governance, asuransi dan keamanan; dan juga para ahli auditor teknologi informasi dan kontrol. COBIT Framework dibentuk agar dapat berjalan berdampingan dengan standar dan best practices yang lainnya.

Implementasi dari best practices harus konsisten dengan tatakelola dan kerangka kontrol Perusahaan, tepat dengan organisasi, dan terintegrasi dengan metode lain yang digunakan. Standar dan best practices bukan merupakan solusi yang selalu berhasil dan efektifitasnya tergantung dari bagaimana mereka diimplementasikan dan tetap diperbaharui. Best practices biasanya lebih berguna jika diterapkan sebagai kumpulan pinsip dan sebagai permulaan (starting point) dalam menentukan prosedur. Untuk mencapai keselarasan dari best practices terhadap kebutuhan bisnis, sangat disarankan agar menggunakan COBIT pada tingkatan teratas (highest level), menyediakan kontrol framework berdasarkan model proses teknologi informasi yang seharusnya cocok untuk perusahaan  secara umum.

COBIT FRAMEWORK
Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :
a.    Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.
b.    Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance atau saran perbaikan.


c.    Management Guidelines
Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.
d.    Maturity Models
Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

Pengelolaan TI (Tata Kelola TI)
Teknologi informasi memiliki peranan penting bagi setiap perusahaan yang memanfaatkan teknologi informasi pada kegiatan bisnisnya, serta merupakan salah satu faktor dalam mencapai tujuan perusahaan. Peran TI akan optimal jika pengelolaan TI maksimal. Pengelolaan TI yang maksimal akan dilaksanakan dengan baik dengan menilai keselarasan antara penerapan TI dengan kebutuhan perusahaan sendiri.
Semua kegiatan yang dilakukan pasti memiliki resiko, begitu juga dengan pengelolaan TI. Pengelolaan TI yang baik pasti mengiidentifikasikan segala bentuk resiko dari penerapan TI dan penanganan dari resiko-resiko  yang akan dihadapi. Untuk itu perusahaan memerlukan adanya suatu penerapan yang harus dilakukan perusahaan, yakni menerapkan Tata Kelola TI (IT Governance).

PT. Transindo Jaya Komara 
KOPERASI LANGIT BIRU yang sebelumnya dikenal dengan PT. Transindo Jaya Komara (PT. TJK) dengan Akte Notaris H. Feby Rubein Hidayat SH No. AHU. 0006152.AH.01.09. Tahun 2011 adalah perusahaan konvensional yang sudah berdiri 2 tahun dan bergerak khusus mengelola daging sapi dan air  mineral.
Saat ini KOPERASI LANGIT BIRU telah memiliki 62 suplayer pemotongan dan pendistribusian daging sapi serta pusat pendistribusian air mineral SAFWA. Adalah Ustad Jaya Komara sebagai Direktur utama memiliki pengalaman 16 Tahun dalam pengelolaan daging sapi. Ustad yang selalu berpenampilan sederhana dan apa adanya ini memiliki visi misi besar untuk kesejahteraan bersama khususnya Umat Islam. Untuk mengembangkan usahanya ini Ustad jaya Komara pada awalnya hanya menggandeng masyarakat sekitar saja untuk ikut serta menikmati keuntungan hasil usaha daging sapinya.
Berawal dari pandanganya terhadap strata kehidupan masyarakat Indonesia dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin tetap miskin. Maka tercetuslah ide kreatif untuk pengembangan usahanya dengan mengikutsertakan masyarakat pada umumnya. Pada awalnya hanya diadakan arisan daging untuk masyarakat sekitar saja, yang hasilnya dibagikan tiap lebaran haji baik berupa keuntungan berupa uang dan daging sapi itu sendiri, hal ini sudah dilakukan oleh ustad jaya komara sebelum KOPERASI LANGIT BIRU resmi berdiri.

Berkaitan dengan pertimbangan diatas, perlu adanya suatu metode untuk mengelola IT. Dalam hal ini, metode COBIT perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar pengguna IT sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan IT. Dalam hal ini saya mencoba merancang penerapan COBIT pada PT. Transindo Jaya Komara.
1.    Analisis Permasalahan
·         Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah memiliki prosedur pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan, tetapi faktanya prosedur tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sehingga user biasanya melakukan secara manual.
·         Mengetahui berbagai kendala dalam pengelolaan teknologi informasi yang dijalankan.
·         Perusahaan menginginkan adanya suatu evaluasi tata kelola teknologi informasi untuk peningkatan mutu perusahaan .
·         Pengolahan Data
PO 1 Merencanakan rencana strategis IT
Pada PT. Transindo Jaya Komara sudah mengetahui akan rencana strategis TI, meski kenyataannya pelaksanaannya sering diabaikan. Pendokumentasian belum terstruktur dengan jelas. Dan hanya diketahui oleh beberapa pegawai yang berkepentingan saja. Update dari rencana strategis TI merupakan respon dari permintaan pihak perusahaan dan juga berdasarkan perubahan kondisi yang ada. Keputusan-keputusan stategis yang diambil hanya berdasarkan pada masalah yang ada dalam proyek yang dilaksanakan, belum berdasarkan rencana strategis TI yang telah ditetapkan secara konsisten.
Tetapi pada perusahaan ini sudah adanya solusi TI yang dibuat untuk menghadapi masalah yang ada. Penyampaian kepada konsumen juga sudah dilakukan, hanya belum berjalan dengan maksimal. Penyampaian kepada konsumen dilakukan secara online, dengan website yang diberikan perusahaan.
Seperti adanya rencana strategis dalam pemanfataan TI pada perusahaan ini yakni :
·         Solusi menyeluruh untuk industri perdagangan dan investasi
·         Solusi TI menyeluruh dengan nilai yang luar biasa
·         Solusi TI menyeluruh dengan kompetensi yang tinggi

PO 2 Arsitektur Informasi
Belum semua instansi memiliki sistem informasi dan sistem informasi yang dikembangkan belum terintegrasi.
PO 3 Arah Teknologi
Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai.
PO 4 Organisasi TI dan hubungan
Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal.

PO 5 Investasi TI
Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.
Alokasi anggaran yang terbatas.

PO6 Komunikasi tujuan dan arah manajemen
Masih lemahnya koordinasi pembagian produk produk. Hal ini menyebabkan
koordinasi koperasi kurang efektif dan antrian yang semakin panjang.

PO 7 Manage SDM
Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.
Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional
maupun manajerial.

PO 8 Kesesuaian dengan external requirement
Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan
masyarakat (globalisasi).i TI menyeluruh untuk industri transportasi dan perjalan
PO 9 Menilai Resiko TI
Di PT. Transindo Jaya Komara sudah adanya  kebijakan akan manajemen resiko, karena sebagian besar pelaksanaan kegiatan bisnis di Departemen TI di perusahaan ini sudah memanfaatkan teknologi 100 %. Manajemen resiko dilakukan sesuai dengan proses yang telah ditentukan perusahaan, namun belum ada standart khusus untuk mengatur kebijakan manajemen resiko tersebut. Tetapi manajemen resiko pada perusahaan ini belum disosialisasikan kepada seluruh pegawai, jadi hanya pihak terkait atau manager yang mengaturnya dan menjalankannya. Apabila terjadi kesalahan manajer yang memberitahukan secara manual kepada pegawainya.
Proses kelonggaran/mitigasi yang diberikan terhadap resiko proyek, baik proyek baru atau lama semuanya diperiksa oleh manager, tetapi masih belum konsisten karena tidak adanya standart khusus untuk proses tersebut.
PO 10 Manajemen Proyek
Pada perusahaan ini, menajemen untuk proyek telah memenuhi kebutuhan user. User disini ialah pegawai, manager, pimpinan dan stakeholders lainnya. Namun, proses pedokumentasian belum berjalan dengan baik serta pengembangan dan penggunaan teknik juga belum dilaksanakan dengan baik. Serta aplikasi dari penerapan management proyek tergantung pada kebijakan dari manager.
PO 11 Manajemen kualitas
Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

KESIMPULAN
Metode cobit perlu diterapkan pada PT Transindo Jaya Komara, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT Transindo Jaya Komara dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kenyamanan dan keamanan bagi investor koperasi, pemegang saham dan pemerintah.
-ITIL
ITIL atau Information Technology Infrastructure Library adalah suatu rangkaian dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan (TI). Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya.
ITIL memberikan deskripsi detil tentang beberapa praktik (TI) penting dengan daftar cek, tugas, serta prosedur yang menyeluruh yang dapat disesuaikan dengan segala jenis organisasi (TI).
Walaupun dikembangkan sejak dasawarsa 1980-an, penggunaan ITIL baru meluas pada pertengahan 1990-an dengan spesifikasi versi keduanya (ITIL v2) yang paling dikenal dengan dua set bukunya yang berhubungan dengan ITSM (IT Service Management), yaitu Service Delivery (Antar Layanan) dan Service Support (Dukungan Layanan).
Pada awalnya ITIL adalah serangkaian lebih dari 40 buku pedoman tentang pengelolaan layanan IT yang terdiri dari 26 modul. Perpustakaan besar pertama ini juga dikenal sebagai ITIL 1.0. Antara 2000 dan 2004 disebabkan oleh peningkatan pelayanan yang berkesinambungan dan adaptasi terhadap situasi saat ini dalam lingkungan (TI) modern ITIL 1.0 di rilis besar dan digabungkan menjadi delapan inti manual: ITIL 2.0. Pada awal musim panas 2007 ITIL 3.0 diterbitkan. Ini didirikan struktur yang sama sekali baru. Ini terdiri dari tiga bidang utama:
  1. ITIL Core Publikasi
  2. ITIL Pelengkap Bimbingan
  3. ITIL Web Support Services
Pada 30 Juni 2007, OGC (Office of Government Commerce) menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:
  1. Service Strategy
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy. Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
  • Service Portfolio Management
  • Financial Management
  • Demand Management
Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.
  1. Service Design
Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
  • Service Catalog Management
  • Service Level Management
  • Supplier Management
  • Capacity Management
  • Availability Management
  • IT Service Continuity Management
  • Information Security Management

  1. Service Transition Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
  • Transition Planning and Support
  • Change Management
  • Service Asset & Configuration Management
  • Release & Deployment Management
  • Service Validation
  • Evaluation
  • Knowledge Management

  1. Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.

Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
  • Event Management
  • Incident Management
  • Problem Management
  • Request Fulfillment
  • Access Management

  1. Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle
Sebuah perusahaan yang mengimplementasi ITIL secara nyata tentunya mendapat banyak sekali keuntungan, misalnya, pelayanan IT menjadi lebih fokus kepada departemen lainnya di dalam satu perusahaan, biaya lebih efisien dan dapat diatur dengan baik, serta perubahan-perubahan IT yang dapat lebih mudah untuk diatur, dan masih banyak keuntungan lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada income perusahaan itu sendiri.
Framework ITIL dikembangkan sejak 1980-an oleh Office of Government Commerce (Departemen Perdagangan) Inggris sebagai guidance bagi organisasi/perusahaan di sana. Pertengahan 1990-an, ITIL diakui dunia menjadi standar de facto di bidang service management. ITIL menyediakan sekumpulan best practice yang lengkap dan konsisten untuk ITSM, serta mempromosikan pendekatan kualitas untuk mencapai efektivitas dan efisiensi organisasi dalam penggunaan sistem informasi. ITIL mencakup 8 aspek, yakni: dukungan layanan, delivery, rencana pengembangan, manajemen infrastruktur TI, manajemen aplikasi, perspektif bisnis, manajemen sekuriti, dan manajemen aset software. Saat ini ITIL telah memiliki paket materi dan menyediakan kursus pelatihan, ujian dan sertifikasi. Sebagai sebuah framework, ITIL telah memasuki versi terbaru, yaitu ITIL V3 – Service Life Cycle.
Menurut Santosh Nair, Direktur Birlasoft, sebelumnya Birlasoft menggunakan beragam perangkat help desk. Hanya saja, perangkat itu fungsinya terbatas. Semisal, tidak cocok (compliant) dengan proses ITIL; fitur IT Asset Management tidak tersedia sehingga sulit melacak aset; tidak ada fitur untuk persetujuan proses; keterbatasan dalam hal Service Level Agreement ataupun Change Management; tidak ada mesin alur kerja untuk mengotomasi proses; hingga terbatasnya fungsi pelaporan dan notifikasi e-mail. “Semua itu menyebabkan banyak kerja manual, informasi pengguna tidak terlacak secara akurat, kesulitan untuk cocok dengan ITIL dan lisensi software. Akibatnya, ada ketidakpuasan dari para pelanggan dan staf administrasi TI,” ungkap Nair.

Manfaat ITIL
Dengan menyediakan pendekatan sistematis untuk manajemen layanan TI, ITIL dapat membantu sebuah perusahaan dalam cara berikut:
  • Mengurangi biaya
  • Peningkatan layanan TI melalui penggunaan proses-proses praktek terbaik yang telah terbukti meningkatkan kepuasan pelanggan melalui pendekatan yang lebih profesional untuk pelayanan standar dan pedoman
  • Meningkatkan produktivitas
  • Meningkatkan penggunaan keterampilan dan pengalaman
  • Meningkatkan penyampaian layanan pihak ketiga melalui spesifikasi ITIL atau ISO 20000 sebagai standar untuk pengiriman layanan pengadaan jasa.
Desain Layanan
Layanan desain adalah kegiatan perencanaan dan pengorganisasian orang, infrastruktur, komunikasi dan komponen material layanan dalam rangka meningkatkan kualitas dan interaksi antara penyedia layanan dan pelanggan.
Service Design Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Lima aspek utama dari desain layanan :
-Solusi layanan baru atau perubahan.
-Sistem manajemen layanan dan perangkatnya, khususnya Portfolio Layanan.
-Arsitektur teknologi dan sistem manajemen.
-Proses, peran dan kemampuan.
-Metode pengukuran dan satuan.
Tujuan Desain Layanan
Tujuan dari metodologi desain layanan adalah untuk merancang sesuai dengan kebutuhan pelanggan atau peserta,sehingga layanan ini,kompetitif dan relevan kepada pelanggan user-friendly. Proses ini adalah untuk memahami perilaku pelanggan,kebutuhan dan motivasi. Desain Layanan menarik pada metodologi bidang seperti etnografi dan jurnalisme untuk mengumpulkan wawasan pelanggan melalui wawancara dan dengan membayangi pengguna jasa. Layanan desain dapat menginformasikan perubahan ke layanan atau penciptaan layanan baru yang ada.
Paket Desain Layanan
Mendefinisikan seluruh aspek dalam layanan TI dan keseluruhan persyaratan dari setiap tingkatan dalam siklus hidup layanan. SDP dihasilkan untuk setiap layanan TI baru, perubahan mayor, atau layanan TI yang dikeluarkan.



 

Ricardo Haurissa Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates